9

Hubungan Antara Indonesia-Malaysia Terus Memanas, Haruskah Perang Jadi Solusi ???

Konflik masalah perbatasan antara Negara Indonesia dan negara tetangga Malaysia belakangain semakin memanas dan menjadi topik utama pemberitaan di semua media. Sebagai seorang pemuda yang merupakan warga negara Indonesi saya sangat tertarik menanggapi permasalahan ini. Yang lebih heboh lagi hampir di semua propinsi Indonesia mengadakan unjuk rasa yang menyerukan untuk menyatakan perang terhadap Malaysia.

Apakah perang itu menjadi solusi terbaik ?
Saya mencoba untuk membahas sedikit akar permasalahan dan kira-kira solusinya seperti apa. Namun sebelumnya saya ingin menginfokan kalau saya bukanlah seorang pengamat politik atau ekonomi. Jadi kalau ada sedikit materi yang salah dalam artikel ini harap dimaklumi.
Apa yang melatarblekangi pertikaian antara Malayasi dan Indonesia belakangan ini ?

Ada  tiga hal yang paling utama yaitu :

1. Persoalan perbatasan
2. Persoalan kebudayaan
3. Persoalan pelecehan WNI di Malaysia

Untuk kasus pertama dan kedua saya anggap persoalannya hampir serupa yaitu masing-masing negara MENGKLAIM.

Yang pertama adalah kasus perbatasan yang sudah memanas dari tahun 1960-an mulai dari kasus pulau Sipadan dan Ligitan dan terus ke ke perairan Ambalat.
Yang kedua persoalan kebuadayaan dimana pihak Indonesia merasa bahwa beberapa kebudayaannya banyak di klaim oleh malaysia diantaranya Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange dan lain-lain.

Sebenarnya persoalan seperti ini adalah sesuatu yang wajar dan lumrah untuk dua negara yang berbatasan. Karena masing-masing pihak punya dasar dan alasan untuk mengklaim bahwa itu milkinya. Misalnya kasus perbatasan antara Malaysia dan Indonesia, pihak Malaysia punya peta tersendiri yang dibuat pada tahun 1979 sementara Indonesia Menggunakan peta 1969.

Apabila seterusnya terjadi pelanggaran perbatasan yang  di klaim oleh pihak masing-masing, apakah ini patut di anggap sesuatu yang melecehkan kedaulatan negara ?
Persoalan seperti  ini sebenarnya  hanyalah sikap  egoisme masing-masing Negara yang merasa kedaulatan dan harga dirinya telah di injak-injak.
Pihak indonesia merasa bahwa kedaulatannya di injak-injak, begitupun dengan pihak Malaysia juga merasa demikian.
Yang dimaksud dengan pelanggaran kedaulatan sebenarnya adalah apabila suatu negara mengklaim tanah air yang terang-trangan disepakati kedua pihak bahwa itu milik kita. Untuk kawasan yang statusnya bersifat abu-abu itu adalah persoalan yang wajar. Bukan berarti kita harus melunak, untuk membela tanah air taruhannya adalah darah. Tapi bagaimanapun perang tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagaimana kata pepatah “Menang jadi arang, kalah jadi abu”.

Hukum undang-undang Internasional sendiri tidak membenarkan adanya perang untuk penyelesaian sengketa perbatasan. Barangsiapa yang melanggar hukum tersebut akan mendapatkan sanksi internasional baik itu sanksi politik atau ekonomi yang ditujukan pada negara yang memulai menggunakan kekerasan.

Untuk persoalan yang ketiga adalah pelecehan WNI khusunya TKI dan TKW yang ada di Malaysia. Sebagian orang boleh menganggap hal ini lumrah. Tapi bagi saya Inilah sesungguhnya cerminan harga diri dan kwalitas kita sebagai warga negara Indonesia.
Menurut saya selagi masih ada yang namanya TKI dan TKW maka pelecehan itu pasti akan selalu ada. Kalau tidak mau terjadi pelecehan berhentikan yang namanya TKI dan TKW.

Saya sangat tertarik membahasa permasalah ini karena erat hubungan dengan ekonomi. Harus kita akui bahwa penyebab semua permasalah ini adalah ekonomi, kalau negara kita miskin secara ekonomi image kita tetap sebagai negara tertinggal. Untuk membahas lebih mendalam tentang ekonomi dibutuhkan pakarnya. Saya hanya ingini memberi sedikit ulasan.

Berdasakan data tahun 2010 jumlah pengusaha Indonesia hanya sebesar 0,18 % dari total populasi penduduk yang ada. Sementara kalau kita bandingkan dengan salah satu negara tetangga seperti Singapura jumlah pengusahanya mencapai 7 %. Lalu apa hubungannya antara pengusaha dan ekonomi ?
Sangat besar pengaruhnya karena syarat suatu negara dikatakan sehat secara ekonomi apabila jumlah pengusanya mencapai minimal 5 %. Jadi Indonesia sebenarnya jauh dari kata sehat.

Perbandingan yang ada kira-kira seperti ini, dari sekitar 600 orang penduduk indonesia hanya ada 1 orang pengusaha (Kategori pengusaha disini yaitu orang yang sudah mandiri dan mampu mempekrjakan beberapa orang karyawan). Selebihnya adalah pegawai, buruh, petani dan pengangguran.
Jadi apakah bisa 1 orang itu menampung pekerja sebanyak 600 orang ?
Inilah sebabnya kenapa Indonesia harus mengirim TKI/TKW keluar negeri dan sebagian terpaksa menganggur.

Untuk Singapura, dari sekitar 100 orang warganya terdapat 7 orang pengusaha dan selebihnya pegawai, buruh dan petani. 7 orang diharuskan mempekerjakan sekitar 90 orang bukannya kelebihan malah kekurangan yang menyebakan negara tersebut harus mendatangkan tenaga kerja dari luar.

Kalau kita pikir-pikir nasib Negara ini masih sangat memperihatinkan.
Lalu penyebanya apa ?
Apakah kita harus menyalahkan pemerintah ?
Yang salah bukan hanya pemerintah tapi semua pihak bahkan termasuk penulis dan pembaca sekalian. Karena sebagian besar dari kita hanya mempunyai cita-cita untuk bergantung kepada pemerintah atau pengusaha swasta. Sangat jarang individu yang berpikir untuk menjadi seorang pengusaha padahal sumber segala sesuatunya adalah pola pikir dan mental (Baca buku “Berpikir Dan Berjiwa Besar” Karangan David J Scwartz).

Untuk pemerintah yang mengambil kebijakan ekonomi bagaimanapun harus bertanggung jawab dengan semua keadaan. Kita masih ingat isu yang beredar menjelang Pilpres Indonesia 2009 kemarin tentang ekonomi. Waktu itu marak dibicarakan tentang kebijakan ekonomi Makro, Mikro, atau yang disebut-sebut NEOLIB dan Ekonomi kerakyatan.
Sedikit definisi tentang ilmu ekonomi makro dan mikro :

“Ilmu ekonomi makro mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat (keseluruhan). Variabel-variabel tersebut antara lain : pendapatan nasional, kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional. Sementara ilmu ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah tangga. “

Harus kita akui kalau sejak 5 tahun terakhir secara ekonomi makro Indonesia terus membaik. Tapi ini hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Dengan kata lain kebijakan ekonomi yang ada membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.
Di Indoesia memang sudah ada beberapa organisai untuk kewirausahaan seperti Kamar Dagang Dan Industri (KADIN) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Tapi organisai seperti itu seolah-olah hanya ajang reuni bagi orang-orang yang telah berhasil untuk memamerkan keberhasilan mereka dan menambah kekayaan pribadi mereka.

Seharusnya dibentuk sebuah organisasi yang siap membantu siapapun yang ingin bergerak di bidang usaha dengan cara diberikan pendidikan dan ilmu tentang dunia bisnis karena yang paling perlu adalah ilmu dan pendidikan agar mental bisnis itu tercipta. Persoalan modal materi atau uang itu urusan belakangan. Dengan demikian maka peningkatan jumlah pengusaha dari tahun ke tahun akan bisa bertambah sehingga pengiriman TKI dan TKW bisa dikurangi.

Kesimpulan : Mengenai kasus sengketa antara Indonseia dan Malaysia itu adalah hal yang wajar, Sikap Nasionalisme tidaklah harus selalu ditunjukkan dengan kesiapan mengorbankan diri dengan perang, tapi mari kita bersama-sama memperbaiki dan meningkatkan kwalitas diri masing-masing dengan menunjukkan suatu karya yang bisa membanggakan minimal untuk keluarga sendiri. Karena hanya dengan inilah negara kita bisa berdaulat di mata asing. Kalau anda merasa seorang yang Nasionalis dan Patriotik bahagiakan keluarga anda dulu.
Mengeritik pemimpin itu harus, tapi menghargai pemimpin itu juga harus.
Apabila suatu negara tidak pernah menghargai pemimpinnya maka jangan harap Negarai itu dihargai oleh Negara lain.
Kita ambil contoh mantan presiden Soeharto, seburuk apapun beliau tapi pada era pemerintahannya bangsa kita kita cukup disegani karena rakyat juga segan pada beliau.

Salam : Basri Tamang

Filed in: Headline, Umum Tags: 

Related Posts

Bookmark and Promote!

9 Responses to "Hubungan Antara Indonesia-Malaysia Terus Memanas, Haruskah Perang Jadi Solusi ???"

  1. Harminto says:

    Apakah solusi terbaik dengan gencatan senjata, Indonesia harus mengoreksi baik menyangkut kebijakan kedalam maupun keluar, disinilah bergaining politik kita untuk berdiplomasi, permasalahan perbatasan bukan hanya dengan Malaysia tetapi dengan negara tetangga lainnya perlu ditindaklanjuti masalah perbatasan sehingga dapat secara jernih kita dapat memilah masalah yang ada di perbatasan,,,
    Salam untuk Indonesia Bersatu,,,

  2. tenriewa says:

    Jalan terbaik adalah diplomasi, kalau itu menemui jalan buntu barulah di pakai cara selanjutnya. Kita yang berada di zona aman bisa saja meneriakkan perang. Tapi harus dipikirkan nasib saudara-saudara kita yang ada di perbatasan bahkan yang ada di negara tetangga tersebut.

  3. Kereeeennnnnn…………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. ibe master says:

    mantap gan

  5. Worker says:

    ЎHola!
    En la carga de antivirus mi pбgina de poner alerta, por favor de verificaciуn.

    Worker

  6. masalah klaim kebudayaan jangan dianggap wajar lah, kebudayaan itu asli milik indonesia yang harus dijaga kelestariannya. Malaysia boleh menampilkan kebudayaan kita,tapi dengam syarat,malaysia itu mengakui bahwa apa yang merepa tampilkan adalah kebudayaan dari indonesia.salah satu contohnya taekwondo yang sekarang ada di belahan bumi manapun,mereka belajar taekwondo dan menampilkannya dimana-mana,tapi setiap negara itu benar-benar mengakui bahwa itu adalah bela diri korea.begitupun seharusnya malaysia. Walaupun yang menampilkan itu orang indonesia yang sudah jadi warga malaysia. Untuk masalah tki, kita memang masih membutuhkan adanya tki,karena negara juga mendapatkan pemasukan dari situ. Akan tetapi kuantitasnya yang harus di minimalisir, negara kita kurang menghargai orang-orang cerdas, sehingga kecerdasan mereka dimanfaatkan oleh negara lain. Banyak orang yang demi kesejahteraannya lari ke negara lain,sedangkan orang-orang yang diatas dengan seenaknya dan tak tahu malu memakan hak yang seharusnya untuk rakyat. Contohlah korea selatan, salah satu presidennya bunuh diri karena malu telah korupsi.

    • Basri Tamang says:

      Saya sepakat kalau kebudayaan Indonesia harus dijaga. Persoalannya apakah Indonesia telah mempatenkan kebudayaan tersebut ?
      Kalau kebudayaan tersebut sudah dipatenkan dan masih di klaim negara lain, ini yang SAMA SEKALI TIDAK WAJAR.
      Sama saja kalau tiba-tiba Malaysia mengklaim Pulau KALIMANTAN adalah miliknya, maka harganya adalah MATI.
      Tapi kalau yang diklaim adalah perbatasan yang masih sifatnya abu-abu maka perang bukanlah solusi pertama, tapi solusi terakhir…..
      Kalau masalah TKI/TKW Indonesia masih membutuhkan saya sepakat.
      Tapi apakah semua NEGARA DI DUNIA ini mengirimkan tenaga kerjanya keluar ???
      Kenapa INDONESIA tidak berpikiran layaknya SINGAPURA san MALAYSIA yang justru membutuhkan tenaga kerja ?

      Mungkin tidak instant, tapi bayangin saja pengusaha di Indonesia sampai sekarang masih 0,18 % artinya 1 : 600 orang.

      Selagi TKW masih ada, selama itu pula pelecehan akan ada…
      Jangankan terhadap TKW terhadap anak sendiri kalau orang itu banyak masalah mereka kadang bertindak diluar akal sehat. Apalagi terhadap pembantunya,…

  7. putra muria says:

    stop saja pengiriman TKW ke malaysia,toh masih banyak negara yang membutuhkan tkw dari Indonesia misal Tim teng,hongkong ,korea,cina singapura dll.lagi pula kerja di malaysia upahnya tdk jauh berbeda dg di jakarta

  8. Perang tidak akan pernah bisa menjadi solusi. Yang penting menurut saya antara Indonesia dan Malaysia harus sering komunikasi supaya bisa saling mengerti. Sekarang masalahnya, antara Indonesia dan Malaysia masih sering salah paham,

Leave a Reply

Submit Comment

© 2020 Info Seputar Internet. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
Redesain By chapila.